Naik kereta api tut tut tut.. ada yang tahu lagunya ?
ini pengalaman aku waktu menuju surabaya, jika kita ingin melakukan perjalanan dari bandung ke surabaya dengan murah dan cepat ya naik kereta, tapi bagaimana jika tak dapat tiket langsung ? coba lakukan naik turun beberapa kereta. sebagai info kereta bandung surabaya selalu penuh saat high season, jangankan ekonomi yang murah meriah yang eksekutifpun selalu penuh.
karena sekarang saya bekerja di Tasikmalaya, maka pada perjalanan kali ini saya mengawali perjalanan dari stasiun ciamis. tujuan saya adalah Surabaya, sayang sekali tiket kereta pasundan sudah terjual habis, yang ada Mutiara selatan, turangga dan argo wilis, saya memilih naik kereta Kahuripan, renacana saya akan turun di stasiun kertosono, perjalanan kali ini berangkat pkl 21:31 dari stasiun ciamis, saya duduk di gerbong 6, nampaknya semua kursi terisi penuh, saat perjalanan saya memilih tidur, karena naik kereta malam hari itu tak banyak yang bisa dilihat, walaupun tidur sambil duduk di kereta itu tidak begitu pulas karena sesekali terbangun saat badan miring ke penumpang di sebelah, hehe malu juga, oh iya waktu itu saya duduk berdekatan dengan penumpang sekeluarga, sempat ngobrol tetntang apa tujuan prerjalanan ini dan akan turun dimana, hehe biasa pertanyaan yang lumprah saat bertemu orang di perjalanan, ternyata mereka keluarga yang sedang mudik, mereka akan turun di stasiun akhir yaiutu Blitar.
Saat kereta api tiba di stasiun lempuyangan banyak sekali penumpang yang turun, wah jogja memang selalu ramai pikirku. karena waktu itu bulan ramadhan maka semua penumpang mendapatkan makan sahur sekitar pkl 3 pagi, menunya standar aja nasi + telur dan sayuran, juga tak lupa kerupuk, PT KAI memang mengerti selera urang sunda tentang kerupuk, mungkin karena kereta api ini rutenya dari kota Periangan, saat pembagian makan sahur gratis terdengar pengumuman bawaha jika kita memnginginkan menu lain untuk sahur, kita bisa memesan di restoran kereta, stelah selesai makan sahur kereta memasuki stasiun Purwosari, bagi kamu yang akan ke solo naik kereta ini maka pemberhentiannya di purwosari, melihat jam masih ada waktu buat merokok sayapun turun sebentar dan berlomba merokok bersama penumpang lainnya, inilah tadisi saat naik kereta ekonomi yang tentu saja jarang ditemui saat naik kereta pada kelas yang lebih tinggi yang penumpangnya lebih banyak memilih duduk di kursi masing-masing, kereta berhenti sekitar 5 menit, pengumuan imsak juga diberitahukan melalui pengeras suara, waktu itu saat kereta akan memasuki stasiun Sragen. setelah itu kantukpun datang, kursi sudah banyak yang kosong sayapun permisi kepada keluarga di dekat saya untuk pindah ke kursi lain yang kosong supaya bisa tidur lebih nyenyak, waktu cepat berlalau saat dibawa tidur, sekitar pukul 7 pagi saya dibangunkan oleh penumpang dari keluarga tersebut, rupanya kereta sebentar lagi akan tiba di stasiun nganjuk, saya pun berterimakasih kepada beliau karena telah memberi perhatian supaya saya tidak kebablasan ke stasiun berikutnya, masih ada waktu sekitar setengah jam untuk mencuci mika atau aktifitas pagi lainya, saya mencari kamar kecil dari gerbong 6 hingga gerbong depan ternyata antrianya banyak juga saat pagi hari. persiaapan turun dari kereta periksa barang bawaan supaya tidak ada yang tertinggal, beberapa saat kemudian terdengar pengumuman bahwa sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun kertosono, saya pun berpamitan kepada keluarga yang ada di dekat saya, sesampainya di Kertosono saya berjalan bersama penumpang lainya, santai saja pikirku kereta lanjutannya akan berngkat satu jam kemudian, cukup ramai stasiun nganjuk di pagi hari, tiba di pintu keluar banyak yang menawarkan jasa ojeg, ojeg mas, sapa mereka, mau kemana? saya jawab tidak terimakasih , saya mau ke surabaya, naik dhoho ya mas balasan orang itu, iya saya jawab sambil senyum, saya berjalan ke arah loket penjualan tiket, penumpang kereta lokal terpisah loketnya dengan penumpang kereta jarak jauh, bagi kamu yang ingin lebih awal tiba di surabaya bisa naik ka turangga, ongkosnya sekitar 70 ribu dari stasiun kertosono, saya melilih membeli tiket ka Dhoho tujuan surabaya, karena ini adalah perjalanan santai, jadi cari yang muraha aja, jika dihitung-hitung harganya masih wajar Ka kahuripan Rp. 84000,- + dhoho 10000,- waktu jeda antara kedua kereta ini sekitar 1 jam, itu merupakan waktu yang ideal untuk transit dari ka kahuripan ke ka dhoho.
sambil menunggu kereta lanjutan saya ngobrol dengan rombongan remaja, mereka juga akan pergi ke surabaya, akan berbelanja karena sedang ada diskon di salah satu pusat perbelanjaan di surabaya, mereka tanya bagaimana cara naik kereta ? kerena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka naik kertea api, saya jawab aja nanti juga akan dipanggil penumpang tujuan surabaya, saya pun coba ngobrol dengan rejmaja itu, saya bilang nanti saya kasih tahu kalu udah ada pengumuman soalnya kita akan naik kereta yang sama, tak lama kemudian panggilan bording (keren juga yah istilahnya kaya naik pesawat) kepada para penumpang tujuan surabaya, antriannya panjang sekali, tak lupa petugas mengingatkan bahwa untuk tetap tertib kerena waktu pemberangkatan masih cukup lama, butuh waktu sepuluh menit antrian boarding, petugaspun memastikan kembali bahwa yang bording saat ini adalah penumpang tujuan surabaya, penumpang tujuan blitar belum diperbolehkan, saat tiba di gerbong kereta dhoho saya duduk di kursi paling depan, banyak yang bingung dengan nomer kursi, untung saja kereta masih punya banyak waktu , entah apa yang terjadi waktu itu rasanya lama sekali menunggu pemberangkatan, padahal perpindahan lokomotif biasanya tak sampai setengah jam, saya santai saja, karena tiba di surabaya nanti juga belum bisa check-in ke hotel, setelah menunggu cukup lama keretapun diberangkatkan dari stasiun kertosono tujuan akhir stasiun surabaya pasar turi, kereta ini berhenti di hampir semua stasiun, waktu tempuh yang tertera pada tiket, kurang dari tiga jam,. sesampainya di surabaya gubeng saya turun bersama penumpang lainya, ada juga penumpang yang melanjutkan ke stasiun pasar turi, begitu keluar dari stasiun banyak yang menawarkan angkutan, ojeg mas, taksi pak. sayapun terus berjalan ke arah selatan, cukup ramai suasana di stasiun gubeng waktu itu ditambah lagi karena musim mudik lebaran. banyak juga terlihat ojek online, wah sekarang suasananya cukup berbeda disini ketimbang tiga atau empat tahun lalu saat saya tiba di Gubeng, jalan rayanyapun sangat ramai saya pun berjalan kaki ke arah jalan sumatra menuju hotel yang telah sya pesan online beberapa hari yang lalu.
Itulah pengalaman aku estafet naik ka ekonomi. ke Surabaya, jika kita tahu jadwal lokal kita bisa dapat ongkos yang murah.









